cari apa ?

Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri laporan pendahuluan. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

1. Pengertian Hipertensi dikategorikan ringan jika tekanan diastoliknya berkisar 95 – 104 MmHg, hipertensi sedang kalau tekanan diast...

1. Pengertian

Laporan Pendahuluan Hipertensi

Hipertensi dikategorikan ringan jika tekanan diastoliknya berkisar 95 – 104 MmHg, hipertensi sedang kalau tekanan diastoliknya diantara kisaran 105 & 114 MmHg, & hipertensi berat bila tekanan diastoliknya berkisar 115 MmHg atau lebih dari itu. Pembagian atau perkategian ini berdasarkan dari peningkatan tekanan diastolik karena dianggap lebih serius dari peningkatan sistolik ( Gunawan, 2003 ).
Hipertensi ialah tekanan darah tinggi atau istilah kedokteran menjelaskan hipertensi merupakan sebuah kondisi di mana berlangsung gangguan pada mekanisme pengaturan tekanan darah (Mansjoer,2008 : 144)
2. Etiologi/Penyebab
Hipertensi berdasarkan penyebabnya bisa dibedakan menjadi 2 golongan besar yakni : ( Lany Gunawan, 2001 )
a. Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) ialah hipertensi yg tidak diketahui apa penyebabnya.
b. Hipertensi sekunder merupakan hipertensi yg biasanya di sebabkan oleh penyakit lain.
Hipertensi primer hampir terdapat pada lebih dari 90 persen penderita hipertensi, sedangkan 10 persen sisanya disebabkan oleh hipertensi sekunder. Walaupun hipertensi primer belum diketahui dengan tentu penyebabnya, data-data penelitian sudah dapat menemukan sekian banyak factor yg tidak jarang sekali menyebabkan terjadinya sebuah penyakit hipertensi.
Pada umunya penyakit hipertensi tak memiliki penyebab yg secara spesifik.
Hipertensi terjadi juga terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer.
Tapi ada sekian banyak factor yg sangat mempengaruhi proses terjadinya hipertensi :
a. Genetik : Respon nerologi yang terjadi pada stress atau disebabkan karena kelainan eksresi atau disebabkan karena transport Na.
b. Obesitas : Yang disebabkan karena terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan atau menyebabkan tekanan darah menjadi meningkat.
c. Stress dikarenakan atau disebabkan oleh Lingkungan.
d. Karena hilangnya Elastisitas pada jaringan serta arterisklerosis pada seseorang yang lanjut usia serta terdapat pelebaran pembuluh darah.
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia yaitu karena terjadinya proses perubahan – perubahan pada :
a. Elastisitas dinding aorta menurun
b. Katub jantung menebal & menjadi kaku
c. Kekuatan jantung dalam memompa darah yang menurun 1% setiap tahun setelah biasanya berusia sekitar 20 thn kekuatan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi & volumenya.
d. Kehilangan elastisitas pembuluh darah
faktor ini berjalan karenakurangnya efektifitas pembuluh darah perifer buat oksigenasi
e. Disebabkan karena meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer
Biarpun hipertensi primer belum diketahui dengan tentu apa yang menyebabkannya, namun data-data penelitian sudah menemukan sekian banyak aspek yg sering menyebabkan terjadinya penyakit hipertensi. Aspek tersebut yaitu sebagai berikut :
a. Faktor keturunan
Dari data statistik yang ditemukan terbukti bahwa seorang akan mempunyai kemungkinan jauh lebih besar utk memperoleh hipertensi apabila orang tuanya merupakan penderita hipertensi.
b. Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yg mempengaruhi timbulnya hipertensi yaitu :
· umur( bila usia bertambah sehingga TD meningkat )
· Jenis kelamin ( laki laki lebih tinggi terkena hipertensi dibandingkan dengan perempuan)
· Ras ( ras kulit hitam ternyata lebih banyak terkena penyakit hipertensi dari kulit putih )
c. Adat hidup
Tradisi hidup atau gaya hidup saat ini ternyata yg sering menyebabkan timbulnya hipertensi ialah :
· Mengonsumsi garam yg tinggi ( melebihi dari 30 gram)
· Kegemukan atau makan berlebihan
· Stress karena suatu masalah
· Memiliki kebiasaan dalam Merokok
· Memiliki kebiasaan suka mengkonsumsi minuman beralkohol
· Minum obat-obatan ( seperti ephedrine, prednison, dan epineprin )
Coba Lihat laporan Pendahuluan Stroke

 3. Patofisiologi
penyebab utama adalah pada penyakit jantung hipertensif merupakan hipertrofi ventrikel kiri yg terjadi sebagai akibat dengan cara langsung dari peningkatan bertahap tahanan pembuluh darah perifer & beban akhir ventrikel kiri. Aspek yg menentukan hipertrofi ventrikel kiri yakni derajat & lamanya peningkatan diastole. Pengaruh sekian banyak aspek humoral seperti rangsangan simpato-adrenal yg meningkat & peningkatan aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAA) belum didapati, bisa jadi yang merupakan penunjang saja. Fungsi pompa ventrikel kiri tatkala hipertensi berhubungan erat bersama penyebab hipertrofi & terjadinya aterosklerosis primer.
Terhadap stadium permulaan hipertensi, hipertrofi yg berlangsung yakni difus (konsentrik). Rasio massa & volume akhir diastolik ventrikel kiri meningkat tidak dengan perubahan yg berarti pada fungsi pompa efektif ventrikel kiri. Pada stadium seterusnya, dikarenakan penyakir berlanjut terus, hipertrofi menjadi tidak teratur, & hasilnya eksentrik, akibat terbatasnya aliran darah koroner. Khas pada jantung dgn hipertrofi eksentrik menggambarkan berkurangnya rasio antara massa & volume, oleh dikarenakan meningkatnya volume diastolik akhir. Factor ini diperlihatkan juga sebagai penurunan dengan cara menyeluruh fungsi pompa (penurunan fraksi ejeksi), peningkatan tegangan dinding ventrikel pada waktu sistol & konsumsi oksigen otot jantung. Hal-hal yg memperburuk fungsi mekanik ventrikel kiri berhubungan erat apabila disertai dengan penyakit jantung koroner.
Hal Koroner
Meskipun tekanan perfusi koroner meningkat, tahanan pembuluh koroner pula meningkat. Menjadi cadangan aliran darah koroner menyusut. Perubahan-perubahan secara hemodinamik sirkulasi koroner yang terjadi pada hipertensi berhubungan erat bersama derajat hipertrofi otot jantung.
Ada 2 factor penting penyebab penurunan cadangan aliran darah koroner, adalah :
1) penebalan arteriol koroner, adalah bagian dari hipertrofi umum pada otot polos pembuluh darah yang resistensi arteriol (arteriolar resistance vessels) semua badan. Setelah Itu terjadi retensi garam & air yg mengakibatkan berkurangnya compliance pembuluh-pembuluh ini & mengakibatkan tahanan perifer;
2) hipertrofi yg meningkat mengakibatkan kurangnya kepadatan kepiler per unit otot jantung apabila timbul hipertrofi eksentrik. Peningkatan jarak difusi antara kapiler & serat otot yg hipertrofik jadi faktor utama pada stadium lanjut dari gambaran hemodinamik ini.
Menjadi, factor koroner pada hipertensi berkembang menjadi akibat penyakit, meski kelihatan sebagai penyebab patologis yg penting dari gangguan aktifitas mekanik ventrikel kiri.
Untuk mempermudah pemahaman dapat dilihat pada skema yang ada dibawah ini:
Pathway Hipertensi
Pathway Hipertensi
4. Tanda dan Gejala
Tanda serta gejala hipertensi dapat dibedakan menjadi :
a.       Tidak ada gejala yang begitu spesifik yang dapat dihubungkan dengan adanya peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh tenaga kesehatan  yang memeriksa tekanan darahnya.  Ini menunjukan bahwa hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa atau di tentukan  apabila tekanan arteri tidak dikur.
b. Gejala yg lazim Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yg menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala & kelelahan. Dalam kenyataannya ini adalah gejala terlazim yg berkaitan kebanyakan pasien yg mencari bantuan medis.
5. Klasifikasi
Dengan Cara klinis derajat hipertensi akan dikelompokkan  sebagai berikut :
Klasifikasi Hipertensi
Klasifikasi Hipertensi
6. MANIFESTASI KLINIS
Terhadap sebagian besar penderita, hipertensi tak memunculkan gejala; biarpun secara tidak sengaja sekian banyak gejala terjadi bersamaan & diakui berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yg dimaksud yakni sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan & kelelahan; yg mungkin terjadi baik pada penderita hipertensi, ataupun pada seseorang bersama tekanan darah yg normal.
Kalau hipertensinya berat atau menahun & tak diobati, mampu timbul gejala berikut :
· sakit kepala
· kelelahan
· mual
· muntah
· sesak nafas
· gelisah
· pandangan jadi kabur yg terjadi dikarenakan adanya kerusakan pada otak, mata, jantung & ginjal.
Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran & bahkan koma dikarenakan terjadi pembengkakan otak. Kondisi ini dinamakan ensefalopati hipertensif, yg memerlukan penanganan langsung.
7. KOMPLIKASI
Adapun komplikasi yg bisa berlangsung pada penyakit hipertensi menurut TIM POKJA RS Harapan Kita (2003 : 64) & Dr. Budhi Setianto (Depkes, 2007) yakni diantaranya :
· Penyakit pembuluh darah otak seperti stroke, perdarahan otak, dan transient ischemic attack =.
· Penyakit jantung seperti gagal jantung, angina pectoris, infark miocard acut (IMA).
· Penyakit ginjal seperti gagal ginjal.
· Penyakit mata seperti perdarahan retina, penebalan retina, oedema pupil.
8. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang menurut Dosen Fakultas kedokteran USU, Abdul Madjid (2004), meliputi :
· Pemeriksaan laboratorium teratur yg dilakukan sebelum mengawali terapi bertujuan memastikan adanya kerusakan organ & faktor resiko lain atau mencari penyebab hipertensi. umumnya diperiksa urin analisa, darah perifer komplit, kimia darah (kalium, natrium, kreatinin, gula darah puasa, kolesterol keseluruhan, HDL, LDL
· Pemeriksaan EKG. EKG (pembesaran jantung, gangguan konduksi), IVP (bisa mengidentifikasi hipertensi, yang merupakan tambahan bisa dilakukan pemerisaan lain, seperti klirens kreatinin, protein, asam urat, TSH & ekordiografi.
· Pemeriksaan diagnostik meliputi BUN /creatinin (fungsi ginjal), glucose (DM) kalium serum (meningkat menunjukkan aldosteron yg meningkat), kalsium serum (peningkatan bisa menyebabkan hipertensi : kolesterol & tri gliserit (indikasi pencetus hipertensi), pemeriksaan tiroid (menyebabkan vasokonstrisi), urinanalisa protein, gula (menunjukkan disfungsi ginjal), asam urat (hal penyebab hipertensi)
· Pemeriksaan radiologi : Photo dada & CT scan
9. PENATALAKSANAAN
a. Olah raga lebih banyak dihubungkan bersama pengobatan hipertensi, sebab olah raga isotonik (spt bersepeda, jogging, aerobic) yg rutin bisa memperlancar peredaran darah maka bisa menurunkan tekanan darah. Olah raga dapat juga digunakan buat mengurangi/ mencegah obesitas & mengurangi asupan garam ke dalam badan (badan yg berkeringat akan mengeluarkan garam melalui kulit).
Pengobatan hipertensi dengan cara garis besar dibagi jadi 2 type adalah :
1. Pengobatan non obat (non farmakologis)
2. Pengobatan dgn obat-obatan (farmakologis)
Pengobatan non obat (non farmakologis)
Pengobatan non farmakologis kadang-kadang bisa mengontrol tekanan darah maka pengobatan farmakologis jadi tak digunakan atau sekurang-kurangnya ditunda. Sedangkan pada kondisi di mana obat anti hipertensi diperlukan, pengobatan non farmakologis akan dimanfaatkan sebagai pelengkap utk mendapati efek pengobatan yg tambah baik.
Pengobatan non farmakologis diantaranya yakni :
1. Diet rendah garam/kolesterol/lemak jenuh
2. Mengurangi asupan garam ke dalam badan.
Nasehat pengurangan garam, mesti memperhatikan rutinitas makan penderita. Pengurangan asupan garam dengan cara drastis dapat susah dilaksanakan. Trik pengobatan ini hendaknya tidak dipakai yang merupakan pengobatan tunggal, namun lebih baik dipakai juga sebagai pelengkap pada pengobatan farmakologis.
3. Ciptakan kondisi rileks
Bermacam Macam trick relaksasi seperti meditasi, yoga atau hipnosis sanggup mengontrol system saraf yg hasilnya mampu menurunkan tekanan darah.
4. Melaksanakan olah raga seperti senam aerobik atau jalan serentak selama 30-45 menit jumlahnya
3-4 kali seminggu.
5. Berhenti merokok & mengurangi mengonsumsi alkohol
Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis)
Obat-obatan antihipertensi. Terdapat tidak sedikit tipe obat antihipertensi yg beredar sekarang ini. Buat pemilihan obat yg pas diharapkan menghubungi dokter.
· Diuretik
Obat-obatan type diuretik bekerja secara mengeluarkan cairan tubuh(melalui kencing) maka volume cairan ditubuh menyusut yg mengakibatkan daya pompa jantung jadi lebih ringan. Sample obatannya merupakan Hidroklorotiazid.
· Penghambat Simpatetik
Golongan obat ini bekerja dgn menghambat gerakan saraf simpatis (saraf yg bekerja pada disaat kita beraktivitas ). Contoh obatnya adalah : Metildopa, Klonidin & Reserpin.
· Betabloker
Prosedur kerja anti-hipertensi obat ini ialah lewat penurunan daya pompa jantung. Type betabloker tak dianjurkan kepada penderita yg sudah didapati mengidap kesukaran pernapasan seperti asma bronkial. Contoh obatnya yakni : Metoprolol, Propranolol & Atenolol. Terhadap penderita diabetes melitus mesti hati-hati, dikarenakan akan menutupi gejala hipoglikemia (keadaan di mana kadar gula dalam darah turun jadi teramat rendah yg dapat berakibat bahaya bagi penderitanya). Kepada ortu terdapat gejala bronkospasme (penyempitan saluran pernapasan) maka pemberian obat mesti hati-hati.
· Vasodilator
Obat golongan ini bekerja cepat terhadap pembuluh darah dgn relaksasi otot polos (otot pembuluh darah). Yg termasuk juga dalam golongan ini yakni : Prasosin, Hidralasin. Efek samping yg mungkin saja bakal terjadi dari pemberian obat ini merupakan : sakit kepala & pusing.
· Penghambat ensim konversi Angiotensin
Trick kerja obat golongan ini merupakan menghambat pembentukan zat Angiotensin II (zat yg bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah). Contoh obat yg termasuk juga golongan ini yaitu Kaptopril. Efek samping yg bisa jadi timbul ialah : batuk kering, pusing, sakit kepala & lemas.
· Antagonis kalsium
Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung secara menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas). Yg termasuk juga golongan obat ini yakni : Nifedipin, Diltiasem & Verapamil. Efek samping yg bisa jadi timbul merupakan : sembelit, pusing, sakit kepala & muntah.
· Penghambat Reseptor Angiotensin II
Kiat kerja obat ini yaitu dgn menghalangi penempelan zat Angiotensin II kepada reseptornya yg mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. Obat-obatan yg termasuk juga dalam golongan ini yaitu Valsartan (Diovan). Efek samping yg bisa saja timbul adalah : sakit kepala, pusing, lemas & mual.
Dgn pengobatan & kontrol yg rutin, pula menghindari perihal dampak terjadinya hipertensi, sehingga angka kematian akibat penyakit ini bisa ditekan.
10. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian ini meliputi identitas pasien, umur, pekerjaan, riwayat penyakit sekarang, dahulu, dan keluarga.
Dalam pengkajian Doengoes ( 1999 ) meliputi aktivitas dan latihan, eliminasi, kebiasaan BAB dan BAK, makan dan cairan meliputi kebiasaan makanan dan minuman yang dikonsumsi dari jenis makanan berlemak, kolesterol tinggi, beralkohol, mengandung garam yang tinggi, dan sebagainya. Neuron sensori : gejala sakit kepala, lemas, istirahat, dan tidur, adanya susah tidur, kebiasaan tidur, persepsi kognitif, persepsi klien tentang penyakitnya sedangkan untuk pemeriksaan fisik yang terpenting adalah tanda-tanda vital yaitu tensi darah, adanya kenaikan.
2. Diagnosa  dan Intervensi Keperawatan
Menurut Doengoes ( 1993 ) pada klien hipertensi dapat ditemukan diagnosa dan intervensi keperawatan sebagai berikut :
a.  Gangguan perfuasi jaringan sehubungan dengan menurunnya suplai O2 jaringan perifer.
1)  Tujuan : suplai O2 ke jaringan terpenuhi
2)  Kriteria hasil :
a) Kulit tampak kemerahan tidak cyanosis
b)Suhu tubuh dalam batas normal 36°C s.d 37°C
c) Nadi dalam batas normal ( 60-80 x/mnt )
3) Intervensi :
a) Monitor tekanan darah, untuk evaluasi awal gunakan manset yang tepat dan tehnik yang akurat.
Rasionalisasi : perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan masalah vaskuler.
b)  Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral perifer
Rasionalisasi : denyutan karotis, juguralis, radialis dan femoralis mungkin teramati/ terpolasi denyut pada tungkai mungkin menurun mencerminkan efek dan vasokontriksi dan kongesti vena.
c) Amati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa pengisian kapiler.
Rasionalisasi : adanya pucat, dingin, kulit lembab dan masa pengisia kapiler lambat, mungkin kaitannya dengan vasokontriksi atau mencerminkan dekompensasi/ penurunan curah jantung
d) Catat adanya oedem umum / tertentu
Rasionalisasi : dapat mengidentivikasi gagal jantung, kerusakan ginjal atau vaskuler.
e)  Ciptakan lingkungan yang nyaman
Rasionalisasi : membantu menurunkan rangsang simpatis, meningkatkan relaksasi.
f) Batasi aktivitas
Rasionalisasi : menurunkan stress dan ketegangan yang mrmpengaruhi tekanan darah dan perjalanan penyakit.
g) Lakukan tindakan yang nyaman seperti meninggikan kepala di tempat tidur.
Rasionalisasi :mengurangi ketidaknyamanan dan dapat menurunkan rangsang simpatis.
h) Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah.
Rasionalisasi : respon terhadap terapi obat, tergantung individu efek sinergis obat karena efek sampinh tersebut, maka penting untuk menggunakan obat dalam jumlah sedikit dan dosis rendah.
Kolaborasi : berikan obat sesuai indikasi.
b. Ganguan rasa nyaman nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.
1)  Tujuan : nyeri berkurang / hilang
2)  Kriteria hasil : a) tekanan darah turun/normal maksimal 140/90mmHg
b) klien tidak merasa pusing / leher tidak terasa kaku lagi
c) klien tampak tenang
3)  Intervensi :
a)  Mempertahankan tirah baring selama masa akut.
Rasionalisasi : meminimalkan stimulasi / maningkatkan relaksasi.
b) Berikan tindakan non farmakologik untuk menghilangkan sakit kepala, misalnya : kompres idngin pada dahi, pijat punggung.
Rasionalisasi : tindakan massage bertujuan untuk menurunkan tekanan vaskuler serebral dan memperlambat respon simpatik, efektif dalam menghilangkan nyeri.
c) Hilangkan / minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala, misalnya : mengejan waktu BAB, batuk panjang dan banyak bergerak.
Rasionalisasi : aktivitas yang meningkat vasokontriksi menyebabkan sakit kepala pada peningkatan tekanan vaskuler.
d) Bantu klien dalam ambulasi sesuai kebutuhan.
Rasionalisasi : pusing dan penglihatan kabur sering berhubungan dengan sakit kepala klien juga dapat mengalamio episode hipertensi postural.
e) Berikan cairan , makanan lunak yang mudah ditelan.
Rasionalisasi : meningkatkan kenyamanan umum dan mengurangi kebutuhan energi/ kelelahan.
f)  Berikan analgetik sesuai indikasi terapi.
Rasionalisasi : menurunkan nyeri dan merangsang system syaraf simpatis.
c. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelelahan.
1)  Tujuan : klien dapat beraktivitas tanpa bantuan
2)  Kriteria hasil : a)   klien merasa mampu beraktivitas
b) klien bisa beraktivitas sederhan
3) Intervensi :
a) Kaji respon keluarga terhadap aktivitas
Rasionalisasi : mengkaji respon fisiologis terhadap stress aktivitas dan bila ada merupakan indicator dari aktivitas kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas.
b) Intruksikan klien tentang teknis penghematan energi
Rasionalisasi : tehnik penghematan energi mengurangi penurunan energi, juga membentu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.
c)  Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas / perawatan diri bertahap, berikan bantuan sesuai kebutuhan.
Rasionalisasi : kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba-tiba. Memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong kemandirian dalam melakukan aktivitas.
d.  Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan pusing sekunder dengan peningkatan Tekanan Intra Kranial (TIK).
1)  Tujuan : penderita bisa istirahat dan tidur dengan tenang
2)  Kriteria hasil : a)  Penderita bisa tidur ±8 jam perhari.
b)  Mata tidak tampak merah.
3)  Intervensi :
a)  Kaji kebiasaan tidur / istirahat
Rasionalisasi : mengkaji perk\lunya dan mengidentifikasi intervensi yang tepat.
b) Kaji kebiasaan pengguanaan obat sedative
Rasionalisasi : kebiasaan pemakaian obat sangat sedative sangat mempengaruhi pola tidur.
c)  Ciptakan suasana tenang
Rasionalisasi : memberikan situasi kondusif untuk tidur.
d) Anjurkan tehnik relaksasi
Rasionalisasi : membantu menginduksi tidur.
e) Beri posisi tidur yang nyaman
Rasionalisasi : perubahan posisi mengubah cara tekanan dan meningkatkan istirahat.
e.  Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif.
1)  Tujuan : pasien mengerti tentang penyakitnya
2) Kriteria hasil : pasien dapat mengungkapkan tentang hipertensi, gejala, tanda, penyebab, komplikasi, dan pencegahannya.
3) Intervensi :
a) Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar termasuk orang terdekat.
Rasionalisasi : mengkajio tingkat kemampuan klien, yang mana dapat mempengaruhi minat klien/ orang terdekat untuk mempelajari penyakit, kemajuan terapi dan prognisis serta hambatan yang terjadi dalam proses pengobatan.
b) Tetapkan dan tentukan tekanan darah normal, jelaskan tentang hipertensi dan efeknya pada jantung, pembuluh darah, ginjal dan otak.
Rasionalisasi : memberikan dasar pengetahuan yang benar tentang tekanan darah serta menerangkan faktor-faktor  resiko yang menunjukan hubungan dalam menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskuler.
c) Bantu klien dalam menidentifikasi faktor-faktor resiko kardiovaskuler yang dapat diubah, misalnya obesitas, diet tnggi lemak jenuh dan kolesterol, merokok, alkoholik, dan pola hidup penuh stress.
d) Jelaskan tentang terapi, obat-obatan serta efek samping yang terjadi.
Rasionalisasi : menjelaskan factor resiko dan kemungkinan yang diubah serta manfaat yang dapat diambil.
e) Anjurkan klien untuk konsultasi dengan pemberi peringatan sebelum menggunakan obat yang diresepkan ataupun yang tidak diresepkan.
Rasionalisasi : kewaspadaan penting dalam pencegahan interaksi obat yang kemungkinan berbahaya
DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddarth.2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
Doengoes ( 1993 ). Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
Smith T. 1995. Tekanan Darah Tinggi. Cetakan V. Arcan.Jakarta
Sobel, B. J. M. D. and George L. Bakris, M . D . FACP. 1999 . Pedoman KLinis diagnosa dan Terapi Hipertensi. Penerbit Hipokrates.



BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Di Indonesia masalah ibu dan anak merupakan sasaran prioritas dalam pembangunan bidang ke...



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Di Indonesia masalah ibu dan anak merupakan sasaran prioritas dalam pembangunan bidang kesehatan. Angka kematian ibu merupakan salah satu indikasi yang menentukan derajat kesehatan suatu bangsa, oleh sebab itu hal ini merupakan prioritas dalam upaya peningkatan status kesehatan masyarakat yang utama di Negara kita. Upaya kesehatan reproduksi salah satunya adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu hamil dan bersalin.        
Angka kematian ibu dengan kehamilan di Indonesia termasuk tinggi di Asia. Pada setiap 2 jam terdapat satu ibu yang meninggal karena melahirkan. Propinsi penyumbang kasus kematian ibu dengan kehamilan terbesar ialah Papua 730 per 100.000 kelahiran, Nusa Tenggara Barat 370 per 100.000 kelahiran, Maluku 340 per 100.000. (Warta Demografi, tahun 2000).
Dari data diatas meskipun ada kecenderungan menurun, tapi angka kematian ibu (AKI) penduduk Indonesia masih relatif tinggi yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2003. Tingginya angka kematian ibu diantaranya disebabkan oleh beberapa faktor meliputi: perdarahan, toxemia gravidarum, dan infeksi. Salah satu dari ketiga faktor tersebut adalah perdarahan dan perdarahan dapat terjadi pada wanita dengan mola hidatidosa.
Mola Hidatidosa ialah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri tumor jinak (benigna) dari chorion penyebab embrio mati dalam uterus tetapi plasenta melanjutkan sel-sel trophoblastik terus tumbuh menjadi agresif dan membentuk tumor yang invasif, kemudian edema dan membentuk seperti buah anggur, karakteristik mola hidatiosa bentuk komplet dan bentuk parsial, yaitu tidak ada jaringan embrio dan ada jaringan embrio.
Melihat fenomena diatas maka kami tertarik membahas makalah  Dengan judul “MOLA HIDATIDOSA”.
B.     Rumusan Masalah
1.      apa pengertian dari mola hidatidosa ?
2.      apakah etiologi dari mola hidatidosa ?
3.      bagaimana patofisiologi dari mola hidatidosa ?
4.      bagaimana tanda dan gejala dari mola hidatidosa ?
5.      bagaimana penatalaksanaan pada klien dengan mola hidatidosa
6.      bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan mola hidatidosa ?

C.    Tujuan
1.                   Mengetahui   pengertian dari mola hidatidosa
2.                   Mengetahui  etiologi dari mola hidatidosa
3.                   Mengetahui patofisiologi   mola hidatidosa
4.                   Mengetahui tanda dan gejala mola hidatidosa
5.                   Mengetahui penatalaksanaan dari mola hidatidosa
6.                   Mengetahui askep pada klien mola hidatosa

D.    Manfaat
Setelah membuat makalah mola hidatidosa ini, mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan memahami pengertian mola hidatidosa, etiologi mola hidatidosa, patofisiologi mola hidatidosa, tanda dan gejala mola hidatidosa, komplikasi mola hidatidosa, gambaran diagnostic mola hidatidosa, penatalaksanaan mola hidatidosa, serta  membuat dan mengaplikasikan  asuhan keperawatan pada klien dengan mola hidatidosa.






BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian
            Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stoma villus korialis langka, vaskularisasi dan edematus. Janin biasanya meninggal akan tetapi villus-villus yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus, gambaran yang diberikan adalah sebagai segugus buah anggur. (Wiknjosastro, Hanifa, dkk, 2002 : 339)
            Mola Hidatidosa adalah jonjot-jonjot korion (chorionic villi) yang tumbuh bergandang berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur, atau mata ikan karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan. Kelainan ini merupakan neoplasma trofoblas yang jinak (benigna) (Mochtar, 2000).
B.     Etiologi
            Penyebab   mola   hidatidosa   tidak   diketahui,   faktor-faktor   yang menyebabkannya antara lain:
1.      Faktor ovum  :  Ovum memang sudah patologik sehingga mati, tapi
terlambat dikeluarkan.
2.      Imunoselektif dari trofoblas
3.      Keadaan sosio ekonomi yang rendah
4.      Paritas tinggi
5.      Kekurangan protein
6.      Infeksi virus dan kromosom yang belum jelas
C.    Patofisiologi
Mola hidatidosa dapat terbagi menjadi :
1.      Mola hidatidosa komplet (klasik), jika tidak ditemukan janin
2.      Mola hidatidosa inkomplet (parsial), jika disertai janin atau bagian janin.
            Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblast :
            Teori missed abortion. Mudigah mati pada kehamilan 3 – 5 minggu karena itu terjadi gangguan peredarah darah sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembung-gelembung.
Teori neoplasma dari Park. Sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehigga timbul gelembung.
            Studi dari Hertig lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tiak adanya embrio komplit pada minggu ke tiga dan ke lima. Adanya sirkulasi maternal yang terus menerus dan tidak adanya fetus menyebabkan trofoblast berproliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan cairan.
(Silvia, Wilson, 2000 : 467)
D.    Tanda dan gejala
Gambaran klinik yang biasanya timbul pada klien dengan mola hidatidosa adalah:
1.      Amenore dan tanda-tanda kehamilanPerdarahan pervaginam berulang.
2.      Darah cenderung berwarna coklat. Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola.
3.      Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
4.      Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya BJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih.
e.Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu.
(Mansjoer, Arif, dkk, 2001 : 266)

E.     Penatalaksanaan Medik
Penanganan yang biasa dilakukan pada mola hidatidosa adalah :
1.      Diagnosis dini akan menguntungkan prognosis
2.      Pemeriksaan USG sangat membantu diagnosis. Pada fasilitas kesehatan di mana sumber daya sangat terbatas, dapat dilakukan : Evaluasi klinik dengan fokus pada : Riwayat haid terakhir dan kehamilan
Perdarahan tidak teratur atau spotting Pembesaran abnormal uterus
Pelunakan serviks dan korpus uteri Kajian uji kehamilan dengan pengenceran urin, Pastikan tidak ada janin (Ballottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis dengan perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson
3.      Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera
4.      Antisipasi komplikasi (krisis tiroid, perdarahan hebat atau perforasi uterus)
5.      Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun.
            Selain dari penanganan di atas, masih terdapat beberapa penanganan khusus yang dilakukan pada pasien dengan mola hidatidosa, yaitu : Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml NaCl atau RL dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara tepat).
Pengosongan dengan Aspirasi Vakum lebih aman dari kuretase tajam. Bila sumber vakum adalah tabung manual, siapkan peralatan AVM minimal 3 set agar dapat digunakan secara bergantian hingga pengosongan kavum uteri selesai
Kenali dan tangani komplikasi seperti tirotoksikasi atau krisis tiroid baik sebelum, selama dan setelah prosedur evakuasi Anemia sedang cukup diberikan Sulfas Ferosus 600 mg/hari, untuk anemia berat lakukan transfusi
Kadar hCG diatas 100.000 IU/L praevakuasi menunjukkan masih terdapat trofoblast aktif (diluar uterus atau invasif), berikan kemoterapi MTX dan pantau beta-hCG serta besar uterus secara klinis dan USG tiap 2 minggu
Selama pemantauan, pasien dianjurkan untuk menggunakan kontrasepsi hormonal (apabila masih ingin anak) atau tubektomy apabila ingin menghentikan fertilisasi

F.     KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN KELAINAN KEHAMILAN MOLA HIDATIDOSA

1.      PENGKAJIAN   
Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan  menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :
a.    Biodata
Mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi : nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke-, lamanya perkawinan dan alama
t
b.   Riwayat keperawatan
a)      Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang           
b)     Riwayat kesehatan, yang terdiri atas :
1)      Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.     
2)      Riwayat kesehatan masa lalu       
·         Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung.
·         Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanyaØ penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah   ginekologi/urinary, penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya.       
·         Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.          
·         Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya
·         Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya.
·         Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya.    
·         Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-        obatan kontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.
·         Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit.
    
c)      Pemeriksaan Fisik, meliputi :        
·         Inspeksi : mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya
·         Palpasi
 Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus.            
 Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor.       
 Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnorma
l
·         Perkusi : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi.        
 Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak    
·         Auskultasi : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin.    
(Johnson & Taylor, 2005 : 39)        

d)     Pemeriksaan laboratorium        
            Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap smear.  Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB,ü apakah klien setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB jenis apa.

e)      Data lain-lain : Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS.
f)       Data psikososial. Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana polaü komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan.
g)      Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien          
h)     Data spiritual : Kaji tentang keyakina klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan.   





2.    DIAGNOSA KEPERAWATAN  
Diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada kasus ”mola hidatidosa” adalah :
1)      Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan           
2)      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan           
3)      Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri      
4)      Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi     
5)      Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan          
6)      Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah     
7)      Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase          
8)      Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan

3.    INTERVENSI KEPERAWATAN
1)   Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan           
Tujuan : Klien akan meninjukkan nyeri berkurang/hilang    
Kriteria Hasil : Klien mengatakan nyeri berkurang/hilang     
Ekspresi wajah tenang, TTV dalam batas normal

INTERVENSI :    
a.      Kaji tingkat nyeri, lokasi dan skala nyeri yang dirasakan klien
Rasional : Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sehingga dapat membantu menentukan intervensi yang tepat         
b.      Observasi tanda-tanda vital tiap 8 jam 
Rasional : Perubahan tanda-tanda vital terutama suhu dan nadi merupakan salah satu indikasi peningkatan nyeri yang dialami oleh klien        
c.       Anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi        
Rasional : Teknik relaksasi dapat membuat klien merasa sedikit nyaman dan distraksi dapat mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri sehingga dapat mambantu mengurangi nyeri yang dirasakan  
d.      Beri posisi yang nyaman           
Rasional : Posisi yang nyaman dapat menghindarkan penekanan pada area luka/nyeri
e.       Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional : Obat-obatan analgetik akan memblok reseptor nyeri sehingga nyeri tidat dapat dipersepsikan  

2)   Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan  
Tujuan : Klien akan menunjukkan terpenuhinya kebutuhan rawat diri        
Kriteria Hasil: Kebutuhan personal hygiene terpenuhi  Klien nampak rapi dan bersih

Intervensi :    
a.       Kaji kemampuan klien dalam memenuhi rawat diri      
Rasional : Untuk mengetahui tingkat kemampuan/ketergantungan klien dalam merawat diri sehingga dapat membantu klien dalam memenuhi kebutuhan hygienenya
b.      Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari    
Rasional : Kebutuhan hygiene klien terpenuhi tanpa membuat klien ketergantungan pada perawa
t
c.       Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuannya       
Rasional : Pelaksanaan aktivitas dapat membantu klien untuk mengembalikan kekuatan secara bertahap dan menambah kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya
d.      Anjurkan keluarga klien untuk selalu berada di dekat klien dan membantu memenuhi kebutuhan klien  
Rasional : Membantu memenuhi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi secara mandiri

3)   Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri      
Tujuan : Klien akan mengungkapkan pola tidurnya tidak terganggu          
Kriteria Hasi
l: Klien dapat tidur 7-8 jam per hari  Konjungtiva tidak anemis     


Intervensi :    
a.         Kaji pola tidur   
Rasional : Dengan mengetahui pola tidur klien, akan memudahkan dalam menentukan intervensi selanjutnya                                
b.        Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang
Rasional :Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat       
c.         Anjurkan klien minum susu hangat sebelum tidur        
Rasional : Susu mengandung protein yang tinggi sehingga dapat merangsang untuk tidu
r
d.        Batasi jumlah penjaga klien     
Rasional : Dengan jumlah penjaga klien yang dibatasi maka kebisingan di ruangan dapat dikurangi sehingga klien dapat beristirahat
e.         Berlakukan jam besuk       
Rasional : Memberikan kesempatan pada klien untuk beristirahat      
f.          Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat tidur Diazepam
Rasional : Diazepam berfungsi untuk merelaksasi otot sehingga klien dapat tenang dan mudah tidur  

4)   Gangguan rasa nyaman : hipertermi berhubungan dengan proses infeksi     
Tujuan : Klien akan menunjukkan tidak terjadi panas         
Kriteria Hasil :  Tanda-tanda vital dalam batas normal, Klien tidak  mengalami,komplikasi   

Intervensi :    
a.         Pantau suhu klien, perhatikan menggigil/diaphoresis
Rasional : Suhu diatas normal menunjukkan terjadinya proses infeksi, pola demam dapat membantu diagnos
b.        Pantau suhu lingkungan         
Rasional : Suhu ruangan harus diubah atau dipertahankan, suhu harus mendekati normal
c.         Anjurkan untuk minum air hangat dalam jumlah yang banyak         
Rasional : Minum banyak dapat membantu menurunkan demam    
d.        Berikan kompres hangat        
Rasional : Kompres hangat dapat membantu penyerapan panas sehingga dapat menurunkan suhu tubuh  
e.         Kolaborasi pemberian obat antipiretik           
Rasional : Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi pada             hypothalamus

5)   Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan          
Tujuan : Klien akan menunjukkan kecemasan berkurang/hilang      
Kriteria Hasi
l :  Ekspresi wajah tenang          
Klien tidak sering bertanya tentang penyakitnya      

Intervensi :    
a.         Kaji tingkat kecemasan klien
Rasional : Mengetahui sejauh mana kecemasan tersebut mengganggu klien
b.        Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya    
Rasional : Ungkapan perasaan dapat memberikan rasa lega sehingga mengurangi kecemasa
n
c.         Dengarkan keluhan klien dengan empati           
Rasional : Dengan mendengarkan keluahan klien secara empati maka klien akan merasa diperhatikan
d.         Jelaskan pada klien tentang proses penyakit dan terapi yang diberikan
Rasional : menambah pengetahuan klien sehingga klien tahu dan mengerti tentang penyakitnya
e.         Beri dorongan spiritual/support        
Rasional : Menciptakan ketenangan batin sehingga kecemasan dapat berkurang   

6)   Risiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah     
Tujuan : Klien akan mengungkapkan nutrisi terpenuhi        
Kriteria Hasil
: Nafsu makan meningkat,  Porsi makan dihabiskan          


Intervensi :    
a.     Kaji status nutrisi klien       
Rasional : Sebagai awal untuk menetapkan rencana selanjutnya      
b.    Anjurkan makan sedikit demi sedikit tapi sering       
Rasional : Makan sedikit demi sedikit tapi sering mampu membantu untuk meminimalkan anoreksia
c.     Anjurkan untuk makan makanan dalam keadaan hangat dan bervariasi       
Rasional : Makanan yang hangat dan bervariasi dapat menbangkitkan nafsu makan klien 
d.    Timbang berat badan sesuai indikasi 
Rasional : Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi 
e.    Tingkatkan kenyamanan lingkungan termasuk sosialisasi saat makan, anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan yang disukai klien          
Rasional : Sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapa
t meningkatkan pemasukan dan menormalkan fungsi makanan          

7)                 Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase          
Tujuan : Klien akan terbebas dari infeksi     
Kriteria Hasil : Tidak tampak tanda-tandaü infeksi Vital sign dalam batas normal           

Intervensi :    
a.    Kaji adanya tanda-tanda infeksi        
Rasional : Mengetahui adanya gejala awal dari proses infeksi         
b.    Observasi vital sign    
Rasional : Perubahan vital sign merupakan salah satu indikator dari terjadinya proses infeksi dalam tubuh  
c.    Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan (luka, garis jahitan), daerah yang terpasang alat invasif (infus, kateter)
Rasional : Deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan komplikasi selanjutnya 
d.    Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat antibiotic         
Rasional : Anti biotik dapat menghambat pembentukan sel bakteri, sehingga proses infeksi tidak terjadi. Disamping itu antibiotik juga dapat langsung membunuh sel bakteri penyebab infeks.       

8)   Risiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya perdarahan
Tujuan : Klien akan menunjukkan gangguan perfusi jaringan perifer tidak terjadi
Kriteria Hasil : Hb dalam batasü normal (12-14 g%),  Turgor kulit baik, Vital, sign dalam batas normal Tidak ada mual muntah        

Intervensi
a.     Awasi tanda-tanda vital, kaji warna kulit/membran mukosa, dasar kuku     
Rasional : Memberika informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan             membantu menentukan intervensi selanjutnya    
b.    Selidiki perubahan tingkat kesadaran, keluhan pusing dan sakit kepala
Rasional : Perubahan dapat menunjukkan ketidak adekuatan perfusi serebral sebagai akibat tekanan darah arterial  
c.    Kaji kulit terhadap dingin, pucat, berkeringat, pegisian kapiler lambat dan nadi perifer lemah        
Rasional :Vasokonstriksi adalah respon simpatis terhadap penurunan volume sirkulasi dan dapat terjadi sebagai efek samping vasopressin       
d.    Berikan cairan intravena, produk darah         
Rasional : Menggantikan kehilangan daran, mempertahankan volume sirkulasi      
e.    Penatalaksanaan pemberian obat antikoagulan tranexid 500 mg 3×1 tablet 
Rasional : Obat anti kagulan berfungsi mempercepat terjadinya pembekuan darah / mengurangi perarahan        





























BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Mola Hidatidosa adalah kehamilan abnormal yang merupakan jonjot-jonjot korion (chorionic villi) yang tumbuh bergandang berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur, atau mata ikan karena itu disebut juga hamil anggur atau mata ikan. Tanda dan gejalanya berupa Amenore, Perdarahan pervaginam berulang, Darah cenderung berwarna coklat, dan Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
Penatalkasanaannya Segera lakukan evakuasi jaringan mola dan sementara proses evakuasi berlangsung berikan infus 10 IU oksitosin dalam 500 ml NaCl atau RL dengan kecepatan 40-60 tetes per menit (sebagai tindakan preventif terhadap perdarahan hebat dan efektifitas kontraksi terhadap pengosongan uterus secara tepat).

B.     Saran
1.      Untuk Akademi
Diharapkan kepada akademi agar dapat lebih memperbanyak buku-buku yang dapat menunjang perkuliahan, khususnya mata kuliah Keperawatan Maternitas  dan mata kuliah lainnya.
2.      Untuk Mahasiswa /i
Untuk dapat membaca dan memberikan masukan tentang makalah ini serta dapat mempergunakan makalah ini sebagai bahan penunjang materi pembelajaran.
3.      Untuk pembaca
Agar dapat membaca makalah dan menggunakan makalah ini sebagai bahan bacaan yang bermanfaat bagi si pembaca dan juga yang lainnya.




DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana asuhan keperawatan. EGC: Jakarta
Johnson & Taylor. 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. EGC: Jakarta
Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I. Media Aesculapius: Jakarta
http://duniakita777.blogspot.co.id/2012/04/laporan-pendahuluan-mola-hidatidosa.html